Dinasti
Umayah dibedakan menjadi dua: pertama,
Dinasti Umayah dirintis dan didirikan oleh Mu’awiyah Ibn Sufyan yang berpusat
di Damaskus (Syiria) yang berlangsung sekitar satu abad dengan mengubah sistem
pemerintahan dari sistem khilafah menjadi sistem kerajaan atau monarki; kedua, Dinasti Umayah di Adalusia yang
pada awalnya merupakan wilayah taklukan Umayah dipimpin oleh seorang gubernur
pada zaman Walid Ibn Abd al-Malik, kemudian diubah menjadi kerajaan yang
terpisah dari kekuasaan Dinasti Bani Abbas berhasi menaklukkan Dinasti Umayah
di Damaskus.
A.
Peradaban
Umayah di Syiria (661-680 M)
Perintisan
Dinasti Umayah dilakukan oleh Mu’awiyah dengan cara menolak membai’at Ali,
berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian dengan pihak Ali yang secara
politik sangat menguntungkan Mu’awiyah. Setelah Ali terbunuh oleh kaum
Khawarij, kekuasaan dipegang oleh Hasan Ibn Ali yang kemudian mengadakan
perjanjian dengan Mu’awiyah dan pada akhirnya mengubah sistem pemerintahan
khilafah menjadi kerajaan.
Dinasti
Umayah di Syiria berlangsung selama 91 tahun dengan kurang lebih 14 khalifah.
Pada masa ini gelar pemimpin pusat tidak disebut raja akan tetapi khalifah
dengan makna konotatif yang berarti khalifah
Allah, pemimpin atau penguasa yang diangkat oleh Allah. Sedangkan istilah
khalifah empat pada zaman setelah Nabi Muhammad SAW wafat, disebut khalifah Rasul sebagai pemimpin
masyarakat. Pada zaman itu yang diangkat sebagai putra mahkota adalah Yazid Ibn
Mu’awiyah.
Pengangkatan
Yazid mendapat respon keras dari masyarakat karena Mu’awiyah sendiri telah
mengganti sistem pemerintahan dari khalifah menjadi kerajaan. Kemudian
pengangkatan Yazid berarti telah melanggar perjanjian dengan Hasan Ibn Ali ra.
Ketika Yazid naik tahta banyak masyarakat yang menolak untuk melakukan bai’at.
Akan tetapi Mu’awiyah berhasil memaksa mereka untuk melakukan bai’at.
Pada
zaman dinasti Umayah, wilayah kerajaan mencakup Spanyol, Afrika Utara, Syiria,
Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afganistan,
India, Pakistan, Turkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah. Pemimpin wilayah
dibagi menjadi dua yakni: pemimpin pusat (khalifah) dan pemimpin wilayah
kemudian juga dibagi ke dalam empat departemen: departemen perpajakan tanah,
departemen yang bertugas merancang ordonansi pemerintah, departemen surat
menyurat, dan departemen perpajakan umum. Sedangkan kelas masyarakat pada zaman
tersebut dibedakan berdasarkan agama seperti bagan di bawah ini:
Islam: 1. Masyarakat Arab beragama Islam
2.
Masyarakat non-Arab yang memeluk Islam
Dinasti
Umayah
Non-Islam: 1. Non-Islam yang dilindungi
2.
Non-Islam yang dijamin keamanannya
Pada
zaman ini juga banyak perkembangan-perkembangan dari segi ilmu agama yakni:
penyempurnaan penulisan Al-Quran dan hadits, ilmu teologi Khawarij dan
Murji’ah, didirikannya Madrasah Hasan Al-Bashri, dan adanya aliran fikih.
Berakhirnya Dinasti Umayah syiria disebabkan oleh tiga kekuatan yang mengancam
khilafah yakni: (1) Bani Hasyim yang terdiri dari Syi’ah yang dipimpin oleh Abu
Muslim al-Khurasani dan Bani al-Abbas yang dipimpin oleh Abu Abbas, (2)
Khawarij, dan (3) Mawali.
B.
Peradaban
Umayah di Andalusia (705-1031 M)
Andalusia
adalah nama bagi semenanjung Iberia pada zaman kejayaan Umayah. Bani Umayah
dapat menguasai Andalusia karena Abd al-Rahman Ibn Mu’awiyah bergelar al-Dakhil
berhasil melarikan diri dari serangan Bani Abbas yang menyerang Daulah Umayah
di Damaskus. Ia berhasil menginjakkan kaki di Andalusia dan selama 32 tahun
berkuasa ia berhasil mengatasi berbagai macam ancaman baik dari dalam maupun
dari luar.
Kemajuan
Dinasti Umayah di Andalusia dicapai pada zaman al-Muntashir, pengganti Abd
al-Rahman al-Dakhil. Kemajuan Cordova ditandai dengan al-Qashr al-Kabir (kota satelit), Rushafat (istana yang dikelilingi taman di sebelah barat laut
Cordova), masjid jami Cordova, dan al-Zahra
(kota satelit di bukit pegunungan Sierra Morena).
Perkembangan
dalam ilmu bahasa dan sastra juga terus meningkat. Masyarakat Bani Umayah
diwajibkan untuk dapat berbahasa Arab sama seperti Bani Umayah Syiria. Bahkan
kitab Taurat pun diterjemahkan dalam Bahasa Arab. Perkembangan sastra dan syair
mendorong juga pertumbuhan ilmu musik dan seni suara di Andalusia. Bapak musik
pada zaman ini adalah Hasan Ibn Nafi. Keahliannya di bidang musik membuat dia dianggap
sebagai peletak dasar musik Spanyol modern. Sigrid Hunke dan Abd al-Mun’im
Maguid menginformasikan bahwa ulama Arablah yang memperkenalkan not lagu
:do-re-mi-fa-sol-la-si. Not itu diambil dari bunyi-bunyi huruf Arab.
Madzhab
fikih yang berkembang di Cordova adalah Maliki. Madzhab ini diperkenalkan oleh
Ziyad Ibn Abd al-Rahman Ibn Ziyad al-Lahmi pada zaman Hisyam I Ibn Abd
al-Rahman al-Dakhil. Ulama besar di bidang fikih yang hidup pada zaman Umayah
di Spanyol adalah Abu Muhammad Ali Ibn Hazm. Pada awalnya, beliau adalah
pengikut imam al-Syafi’i kemudian pindah ke madzhab al-Zhahiri.
Perkembangan
ilmu filsafat dan eksakta juga menonjol di zaman ini. Salah satu diantaranya
yang berjasa adalah Abu al-Qasim Maslamah Ibn Ahmad al-Majriti di bidang ilmu
matematika, astronomi, kedokteran dan kimia. Pada zaman ini angka-angka India
(0,1,2, hingga 9) mulai diperkenalkan berkat buku Sinbad yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Selain itu ulama Arab juga mulai mengembangkan ilmu
pengobatan sehingga melahirkan ilmu apotek dan farmasi.
Dinasti Umayah di Spanyol mulai mengalami
kemunduran ditandai dengan adanya perebutan kekuasaan secara internal dinasti.
Kemunduran ini disebabkan karena penggantian khalifah yang mencapai 14 kali,
adanya teror yang dialami khalifah Umayah Ibn
Abd al-Rahman yang mengakibatkan suasana pemerintahan menjadi tidak
kondusif sehingga dihapuslah sistem khalifah di Andalusia selamanya.
Sumber:
Mubarok, Jaih.2008.Sejarah Peradaban Islam.Bandung:Pustaka
Islamika.
No comments:
Post a Comment